Aqidah dalam Pengobatan Islam 2
Dan terkait penyakit syahwat yang termasuk penyakit hati, All Ne menyebutkan dalam surat Al-Ahzab 32;
بينساء الي الستن كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ الْقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي و قَلْبِهِ مَرْضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا ...
"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain he kama bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara berkeinginanlah orang yung ada penyakit dalam hatinya dan sep perdusain yang baik" (QS. Al-Ahzab 32).
2. Penyakit Jasmani Penyakit jasmani juga disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu dalam Surat An-N ayat 611
لين على الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ .....
"Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincong, tida (pala) bogi urang sakit...." (QS. An-Nur: 61).
Dua jenis penyakit tersebut telah menjadikan setiap manusia akan adanya akan yang erat antara sumber-sumber Ilahiyyah dan kauniyyah atau alan yang karenanya tidak dapat dipisah-pisahkan antara kesehatan rohani dan keselu
B. Manusia dalam prespektif lahiyyah
Dalam perspektif llahiyah maka manusia dapat dijelaskan sebagai berikut
1. Sumber kekuatan manusia terletak pada hati, kehidupan seso bergantung pada kehidupan hatinya, dan kematian hati merupa puncl keterpurukan manusia karena telah jauh dari hidayah dan keridloan Allah SWT
2. Allah SWT yang telah memberikan bidangan yang berkecukupan agar hati-ha manusia mencapai puncak kenikmatan hidup yang sebenarnya, dan dunta hidangan-hidangan itu berupa ibadah-ibadah mahdah dan ibadah phan
1. Setiap hamba Allah berkewajiban secara mutlak untuk menjaga hati penyakit-penyakit yang akan menodai, melukai, dan bahkan akan menutupa segelap-gelapnya, yang menyebabkan hati menjadi rusak, keras, dan tertutup dengan mengingkari keimanan kepada Allah SWT.
4. Setiap epsode perjalanan hidup manusia harus dijalankan atas dasar koos kewuntungan, hati yang mutlak digengam Allah SWT. Harus senantiasa
terbuka menerima nasihat-nasihat orang lain & hati untuk senantiasa menghayati dan memulai dalam langkah-langkah bergerak dan geriknya melalui pintu-pintu taubat.
5. Hati yang sehat akan memberikan ketenangan, kebahagiaan, kehidupan yang optimis, meletakan ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Menghadirkan keberanian dalam hidup, lepas dari kesedihan, keputus asaan, malas, lemah, dsb.
C. Manusia dalam prespektif kauniyyah/alamiyah Ada tiga landasan dalam pengobatan jasmani manusia;
1. Memelihara kesehatan.
2. Memelihara dari hal-hal yang membuat sakit.
3. Dan terbebas dari makanan-makanan yang dapat merusak kesehatan tubuh.
Ada sisi lain yang berhubungan dengan jasmani dan rohani manusia, penyakit yang ditimbulkan oleh unsur-unsur yang melibatkan jin, syaitan atau manusia yang mengikuti jalan dan meminta bantuan kepada jin atau syaitan, hal tersebut berdampak pada kesehatan jasmani dan rohani.
Dan karenanya manusia harus dalam konsep keseimbangan hidup dengan mensinergikan antara aspek ilahiyyah dan alamiyah.
Beberapa penjelasan At-Thibbun Nabawi dan riwayat hadits-hadits Nabi 1. Dari Abi Hurairah, dari Nabi SAW: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan telah menurunkan obatnya.”
2. Dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW: “Obat itu terdapat pada 3 hal: Dengan sayatan bekam, meminum madu dan dengan memanaskan besi, dan aku melarang umatku untuk menggunakannya.”
3. Dari Annas, bahwa banyak orang pada saat itu dalam keadaan sakit, mereka berkata: Ya... Rasulullah, berikanlah kami perlindungan dan berikan juga kami makanan. Maka ketika mereka sembuh mereka berkata: Sesungguhnya kota Madinah terdapat penyakis yang menakutkan, maka Allah SAW menurunkan udara yang panas dan mereka berada di antara unta yang digembala pengembala maka Nabi bersabda: Minumlah dari air susunya,” Beberapa kesalahan dalam berobat 1. Berkeyakinan bahwa obatlah yang dapat menyembuhkan penyakit.
2. Berobat kepada seseorang yang tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu pengobatan.
3. Berobat kepada para dukun atau orang-orang yang bodoh tentang agama Islam.
4. Berkeyakinan dengan benda-benda yang bertuah, tempat- tempat yang bertuah dan dengan keahlian orang-orang yang aneh seperti para tukang sihir yang dapat membohongi melihat manusia dalam penyembuhan penyakit secara cepat.
5. Berputus asa dan berburuk sangka pada saat penyakit belum diberikan kesembuhan, dan kesembuhan adalah milik Allah SWT, proses bersabar dalam berobat alkam semakin menguatkan keyakinan, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak memiliki daya dan kekuatan.
Dalam keterkaitan antara terapi bekam dengan aqidah pengobatan, maka hendaklah bagi kita yang menjalankan profesi sebagai terapis bekam memahami hal-hal berikut ini:
1. Pembekam adalali orang yang sehat secara spiritual, emosional dan jasmaninya. 2. Kekuatan ruhiyah merupakan imunitas yang akan mempengaruhi kondisi fisik menjadi sehat dan kuat.
3. Dalam presfektif Aqidah Islami, upaya-upaya yang dilakukan setiap manusia dalam mengobati adalah langkah-langkah ikhtiar yang kongkrit tetapi kesembuhan hanyalah milik Allah SWT semata. 4. Cara perobatan sesuai dengan fitrah dan sunnahtullah adalah teori-teori yang telah diajarkan oleh Nabi SAW. Thibbun nabawi telah menempatkan orang yang sakit
dalam konteks ujian yang harus disikapi dengan kesabaran, setiap orang harus
menjaga dan memelihara amanah kesehatan, dan jika sakit maka berikhtiarlah,
berdoa untuk kesembuhan dan bertawakal hanya kepada Allah. 5. Seorang terapis adalah orang yang mengerti betul tentang hal ihwal obat dan pengobatan, karenanya tidak boleh membuat kesalahan karena kebodohan dan kelalaian akan berakibat fatal pada orang yang diobati.
6. Pengobatan thibbun nabawi adalah media dakwah terhadap umat Islam di dunia perubatan dan karenanya harus terus didakwahkan kepada seluruh umat Islan.
7. Pengobatan thibbun nabawi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gung
jawab setiap muslim atas produk-produk halal dan baik.
8. Kesuksesan gerakan halal merupakan mata rantai dari pada kebangkitan un slam pada persoalan pengembangan dan pembangunan ekonomi ummah, kareehat dan kesehatan merupakan pilar-pilar yang bersentuhan langsung dengan pe sumber-sumber makanan, minuman dan berbagai keperluan lainny Vang diperlukan seluruh umat Islam.
D. Jiwa Manusia dan Beberapa Penyakit yang Diderita
Definisi Jiwa
Jiwa dalam bahasa Arab disebut An-Nafsu, kesamaan kalimatnya Ar-Ruh. Berkata Ibnu Ishaq: An-Nafs dalam bahasa Arab terbagi dalam dua bagian:
1. Ucapanmu خَرَجَتْ نَفْسُ فُلَانٍ keluar nafs si fulan atau keluar ruhnya
2. An- Nars جُمْلَةُ الشَّيْءِ وَحَقِيْقْتُهُ kumpulan sesuatu dan hakikatnya Berkatalah An- Nafs;
أَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يَا حَسْرَنَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللهِ
"Betapa meruginya atas apa yang telah aku abaikan dari berbuat baik di sisi Allah."
Dalam sejarah Ibnu Abbas beliau berkata: Bagi setiap manusia dua nafsu, pertama Nafsul Aqly yang menjadikannya dapat membedakan, kedua Nafsu Ar- Ruhy yang menjalani kehidupannya.
a. Fenomena Kejiwaan Manusia
Jiwa, ruh atau sanubari manusia merupakan penggerak keshalihan hidup baik dan kejernihan hati akan berdampak pada kebaikan fisik, pikiran dan mentalitas. Jiwa atau hati yang tercelup kental dengan nilai kebenaran akan menggambarkan kepatuhan dan pengabdian yang totalitas pada keagungan Allah SWT.
Demikianlah Allah menggambarkan di dalam Al- Qur'an:
Wahai jiwa- jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan Allah dengan keridlaan dan diridlai Allah, masuklah kalian dalam golongan hamba- hambaku dan masuklah ke dalam surga.
Itulah anti klimaks jiwa-jiwa yang sholih. Akan tetapi seiring dengan berbagai kondisi, kadang tidak sedikit hal-hal yang menggeserkan jiwa kepada keburukan, kesalahan, kelalaian, dan puncaknya menjadi jiwa-jiwa pengingkar Allah, jiwa yang menghambakan kepada nafsu syaithoniyah, jiwa yang berburuk sangka kepada ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Jika hal tersebut yang sudah terjadi, maka menjadi rusaklah seluruh jiwa raganya, pikiran dan mentalitasnya.
Dalam fenomena kejiwaan seperti itu, jadilah manusia- manusia cerdas, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW. dalam riwayat Imam Tirmidzi dengan sanad hasan. Dari Nabi SAW:
الْكِيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَ عَمَلَ لَمَّا بَعْدَ الْمَوْتِ وَ الْعَاجِ رُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمُنُّ عَلَى اللهِ الأَمَانِي
"Orang yang beruntung adalah orang yang merendahkan dirinya dengan beramal sebagai persiapan untuk bekal kematian, dan orang yang lemah, adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hidup dalam berandai-andai kepada Allah".
Demikianlah yang Allah SWT sampaikan dalam firmanNya;
Anda tidak perlu khawatir tentang hal ini .
“Sungguh telah beruntungnya orang yang telak mensucikan jiwa, dan sangatlah merugi orang yang mengotorinya” (QS. Ash- Syams:9-10).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar