Jenis Penyakit Kejiwaan



 B. Jenis Penyakit Kejiwaan 

1. Kegelisahan Dalam kehidupannya, manusia haruslah mampu mengendalikan emosinya, karena kegagalan diri dalam mengendalikan emosi akan berdampak pada kehidupan yang tidak nikmat. Jiwa memiliki ciri-ciri manusia yang dilengkapi dengan kemampuan dan rahasia yang tinggi. Karakteristik tersebut terpancar dari emosinya, seperti senang, sedih, cemas, gelisah, kesusahan dan perasaan-perasaan lainnya.

 permasalahan-kesulitan yang tidak dapat diatasi akan berdampak pada perubahan psikologis, dan hal tersebut ditandai dengan perubahan raut muka, keluar keringat, tertawa, serta mencibir. Dan pada perubahan fisiknya dirasakan detak jantung yang bekerja cepat, sesak napas dan lain-lain. Fenomena kejiwaan seperti itu, Allah gambarkan dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 125: ‎فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِل ْإِسْلَام وَمَن يُر ِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا‎ ‎حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَل ُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا‎ ‎يُؤْمِنُونَ .‎ 

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya dia melapangkan dada untuk (memeluk agama) Islam, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dada sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang -orang yang tidak beriman” (QS. Al-An’am: 125).

 Dan dalam ayat lain:  “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah” (QS. An- Nahl : 58) .

 Kondisi yang melebihi batas menjadi sesuatu yang kontradiktif, dan jika dibiarkan terus menerus akan menjadi kebiasaan, dan pelakunya menjadi selalu bersedih serta terbebani rasa gelisah dan derita.

 2. Marah

 Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW "berilah saya nasehat", beliau Rosulullah bersabda: "jangan marah", lelaki itu terus Ulangi permintaanya dan dia tetap menjawab "jangan marah." (HR. Bukhori).

 Kemarahan merupakan ekspresi kelabilan emosional dan juga menggambarkan ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Kemarahan telah me darah dan jaringan syarafnya menjadi panas menggelora karena syaithon te merasuk ah aliran dan menguasai jantung, akhirnya daya nalar pun menjadi mati dan tida erfungsi. Kemarahantidaklah mencerminkan kepiawaian dan kehebatan pelakunya, karena Rasulullah Saw bersabda: “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.”  (HR. Bukhari dan Muslim) Dan karenanya syari'at Islam melarang orang yang sedang marah untuk membuat keputusan keputusan strategis, seperti tidak boleh memutuskan perkara dalam peradilan, tidak boleh menceraikan istri, dan hal-hal penting lainnya dalam urusan kemaslahatan kehidupan dunia dan akhirat  .

 3. Dengki (sikap iri hati)/ Namimah (adu domba) Dengki (hasad) membenci kebahagiaan orang lain dan berharap kebahagiaan tersebut hilang darinya.  Abu Bakar Al-Razi mengatakan: Dengki bersumber dari gabungan sifat pelit dan keburukan jiwa.

 Sifat dengki lebih buruk dari pada pelit.  Dan karena demikian berat dan dampak besar yang ditimbulkan dari penyakit dengki, maka Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk berlindung dari penyakit tersebut.  Perintah perlindungan ini sama dengan perintah untuk berlindung dari rayuan syathon, sebab sifat dengki merusak ketaatan serta menumbuhkan kesalahan.  Dan wajah pendengki selalu murung dan cemas, marah dengan takdir Allah dan melawan hikmah Allah.  Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur'an surat An-Nisaa ayat 54: ‎أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَلَهُمُ اللَّهُ مِن ف َضْلِهِ، فَقَ دْ ءَاتَيْنَا ءَالَ  إِبْرَاهِيمَ‎ ‎الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَاتَيْنَهُم مُّلْكًا عَظِيمًا .‎ “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?  Sesungguhnya kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami telah memberikan kepada kerajaan yang besar” (QS. An-Nisaa’: 54).

Dari Abu Hurairah Radhyallahu anhu ia berkata, Rasûlullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, janganlah menggunakan calo dalam jual- beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi  membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya, Taqwa itu disini beliau memberikan isyarat ke tiga dada kali- Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim.  Setiap orang muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya Musliinia (Hadits Riwayat Muslim no. 2564, Ahmad II/ 277, 311- dengan ringkas, 360; Ibnu Majah no. 3933, 4213), 

Abu Bakar Al-Razi menegaskan bahwa sifat dengki  merugikan jiwa, karena sifat tersebut menghalangi seseorang untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat.  Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesedihan yang berkepanjangan dan membuat yang bersangkutan suka berangan-angan.

 Nadhal Isa memperingatkan semua pendidik dan orang tua bahwa sifat dengki tumbuh karena buruknya cara mendidik.  Buruknya cara mendidik dalam keluarga, misalnya gagalnya perhatian semua keluarga terhadap lahirnya anak baru dengan menyayangi anak-anak lain.


 Hal tersebut juga dapat dilakukan para guru dengan membanding-bandingkan siswa-siswinya dengan sifat bodoh dan pintar dengan cara yang salah atau tidak memberikan arahan yang benar dalam suatu lingkungan pendidikan.  Oleh karena itu para orang tua dan guru harus bijaksana dalam membimbing anak secara adil dengan tidak membeda-bedakan dalam memberikan dan perhatian.


 4. Depresi/Al-'amaani (panjang angan) Depresi dan masalah kejiwaan timbul pada setiap orang dalam tingkatan yang berbeda-beda, tidak terbatas pada golongan usia tertentu, tetapi dapat terjadi pada anak-anak, remaja, sampai dengan orang dewasa.  Depresi dapat menimbulkan perasaan sedih, curiga, gelisah, penyakit jiwa dan penurunan tingkat produktifitas kerja.


 Sumber penyakit depresi ada dari pengaruh setan pada diri manusia.  Sesuai dengan firman Allah SWT.  surat Al-Israa' ayat 64: ;  ِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ‎ ‎الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا.‎ “Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap pasukan mereka berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah  mereka, dan tidak ada yang menjanjikan oleh syaitan kepada mereka kecuali tipuan belaka” (QS. Al-Israa': 64).


 Kata "wastafziz" berarti hasut atau tipu daya dan makna keduanya provokasi lahiriah (dengan suara-suara) berarti syaitan melakukan tipu daya dan memprovokasi dengan suara-suaranya.


 Lalu, bagaimanakah suara-suara syetan itu?


 Di dalam diri manusia terdapat “Qorin” (syaitan pendamping).  Syaitan mengeluarkan suara yang serupa dengan suara hati manusia, dalam nada den aksinya hingga bahasa yang dipergunakannya.  Pada hati manusia, Qorin membisikkan tiga hal: 

pikiran negatif, pikiran kotor dan ide ketuhanan. Hal tersebut telah Allah jelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 169: ‎إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفram‎ “Sejujurnya syaitan itu Hanya memberitahu kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu kirim” ( QS .Al-Baqarah :169).


 Dan atas hasutan serta hasutan setan tersebut, manusia digolongkan pada dua kelompok: 

1. Mereka berkeyakinan ide-ide itu berasal dari dalam hati mereka.


 2. Orang-orang yang menyadari bahwa ide-ide atau bisikan-bisikan itu tidak benar, namun efek yang diakibatkannya bias sama, yaitu menyebabkan timbulnya rasa curiga, gelisah, marah dan penurunan produktifitas kerja secara drastis.


 Perihal doa kelompok tersebut Allah jelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-A'Raaf ayat 30: ‎فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ إ ِنَّهُمُ اتَّخَذ ُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ‎ ‎مِن دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّم هْتَدُونَ ..‎ “Sebahagian diberi- Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-A’raaf: 30).

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *